17 Februari 2011

Serial catatan Muhammad Ayyas (#1)

Serial ini bukan tulisan saya, melainkan tulisan Kang Abik. Catatan Muhammad Ayyas ini saya ambil dari novel terbarunya, Bumi Cinta yang tokoh utamanya bernama Muhammad Ayyas. Saat membacanya saya begitu "jatuh cinta" pada sang tokoh, Muhammad Ayyas. Berangkat dari hal itu dan akan kesukaan saya mengutip hal-hal yang bermanfaat untuk diri saya (insipirasi), maka saya sengaja membuat beberapa potongan paragraf  dalam novel yang sedikit saya edit dalam "Serial Catatan Muhammad Ayyas".



#1 Catatan Muhammad Ayyas  tentang Ka’bah kiblat Umat islam
Ka’bah sesungguhnya hanyalah kiblat, yaitu arah di mana kaum muslimin menghadapkan wajahnya ketika sholat. Jadi ketika sholat seorang muslim sama sekali tidak menyembah ka’bah yang tak lain adalah batu persegi empat. Sekali lagi tidak, yang disembah seorang muslim hanyalah Allah, Tuhan seru sekalian alam yang diikrarkan muslim ketika pertama kali masuk islam yaitu  aku bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah. Kabah hanya lah arah di mana harus menghadap ketika sholat.
Di dalam islam tata cara ibadah semuanya sudah diatur sempurna yang diatur sendiri oleh Allah sedangkan Rosulullah hanyalah utusan Allah yang menjelaskan tata caranya.  Allah lah yang memerintahkan menghadap sholat ke masjidil haram sebagai kiblat.
Sungguh kami sering melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami kan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai Palingkan mukamu ke arah masjidil haram dan diamna kamu berada palingkanlah mukamu ke arahnya” ( 2:144)
Tujuan menghadap arah yang sama yaitu arah ke ka’bah adalah untuk menyatkan umat islam di mana pun mereka berada. Jika tidak disatukan kiblatnya umat islam akan susah melakukan sholat berjamaah. Dalam satu masjid bisa terjadi ada yang sholat menghadap ke utara ada yang menghadap ke selatan ada yang menghadap ke tenggara dan lain sebagainya. Ibadah sholat jadi tidak khusuk. Persatuan tidak mudah trcipta. Demi menyatukan umat islam di mana pun mereka berada  Allah memerintahkan umat islam menghadap kabah ketiak sholat. Jika ia berada di sebelah utara kabah berarti ia harus menghadap ke selatan (orang islam di rusia). Jika ia berada disebelah timur kabah berarti dia harus menghadap barat (orang islam Indonesia)
Kalau kita baca sejarah dengan seksama yang menggambar peta dunia pertama kali adalah orang islam. Orang islam menggambar peta dunia dengan petunjuk arah selatan menghadap ke atas. Sedangkan arah utara menghadap ke bawah dan bangunan kabah berada di tengah-tengahnya. Jadi dalam pandangan orang islam, saat itu kabah berada di tengah-tengah peta dunia. Kemudian para pembuat peta dari Barat menggambar dunia dengan cara terbalik artinya arah utara menghadap ke utara dan arah selatan menghadap ke bawah. Alhamdulillah kabah juga tetap berada di bagian tengah peta dunia. Di dalam kabah ada batu hitam yang disebut hajar aswad. Ada riwayat menarik, Umar Bin Khatab ra. Pernah berkata kepada hajar aswad “saya tahu engkau hanyalah sebuah batu yang tidak bermanfaat dan tidak merugikan Jika aku tidak melihat Rosululah menyentuh kamu maka aku tidak akan menyentuh kamu”
 Pada zaman Rosulullah bahkan Bilal bin Rabbah berdiri di atas kabah dan mengumandangkan azan dari atas kabah. Kalau orang islam menyembah kabah bagaimana mungkin seorang penyembah menginjak-injak Tuhan yang disembahnya? Bilal bin rabah berdiri menginjak kabah tidak menjadi masalah sebab kabah hanyalah sebuah batu.
Sungguh Allah telah mengatur segala sesuatunya dengan sangat Baik, maka lakukanlah yang Allah perintahkan. Allah Maha Tahu dan kita tidak tahu.

(Bumi Cinta, 204-206)

0 komentar:

Posting Komentar