#3 Catatan Muhammad Ayyas tentang Pertolongan Allah
Ibnu Qudamah dalam salah satu karyanya berjudul At Tawabbin, menuturkan sebuah kisah menarik tentang kasih sayang dan pertolongan Tuhan, Ibnu Qudamah menyitir kesaksian orang yang mengalami kejadian nyata yang menakjubkan. Orang itu bernama Yusuf Bin Husain.
Yusuf menuturkan kisahnya bahwa pada suatu ketika Ia bersama Dzun Nun Al Mishri berada di tepian sebuah anak sungai. Ia melihat seekor kalajengking besar di tempat itu. Tiba-tiba ada seekor katak muncul ke permukaan dan kalajengking itu kemudian naik di atas punggungnya. Kemudian sang katak berenang menyeberangi sungai. Dzun Nun Al Mishri merasa aneh dan mengajaknya untuk mengikuti kalajengking itu maka mereka meyeberang mengikuti kalajengking yang digendong katak itu. Yusuf dan Dzun Nun Al Mishri terperanjat ketika menjumpai seorang pemuda tertidur di tepian sungai yang nampaknya baru saja mabuk dan disampingnya ada seekor ular yang mulai menjalar dari pusar kemudian ke dadanya, kiranya ular itu hendak menggigit telinganya. Mereka pun menyaksikan kejadian luar biasa . Kalajengking tiba-tiba melompat secepat kilat ke tubuh ular dan menyengat ular itu sejadi-jadinya, hingga sang ular menggeliat-geliat dan terkoyak-koyak tubuhnya. Lalu Dzun Nun Al Mishri membangunkan orang yang habis mabuk itu dan ketika orang itu bangun, Dzun Nun seraya berkata
“lihatlah betapa besar kasih sayang Allah yang telah menyelamatkanmu. Lihatlah kalajengking yang diutus-Nya untuk membinasakan ular yang hendak membunuhmu! Hai orang yang terlena, Padahal Tuhan menjaga menjaga dari marabahaya yang merayap di kala gulita. Sungguh aneh mata manusia mampu terlelap meninggalkan Tuhan Yang Kuasa yang melimpahinya berbagai nikmat”.
Setelah itu si pemabuk ini berkata “ Duahi Tuhanku betapa agung kasih sayang-Mu sekalipun tehadap diriku yang durhaka kepada-Mu. Jika demikian bagaimana dengan kasih sayang-Mu terhadap orang –orang yang selalu taat kepadaMu? Lalu pemabuk ini meniti jalan menuju Allah dan sering kali menangis setiap teringat masa lalunya yang sia-sia. Ia terus meniti jalan Allah yang lurus , jalan untuk orang –orang yang diberi nikmat sejati oleh Allah.
Kisah kalajengking yang diutus oleh Allah sesungguhnya bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja. Termasuk pada diri kita. Mungkin kita tidak menyadari, Allah telah mengutus “kalajengking-kalajengking” untuk meyelamatkan kita dari bahaya “ular-ular” yang hendak membinasaka kita.
Kalajengking penyelamat itu bisa berbentuk hal yang bermacam-macam. Bahaya itu bisa jadi misalnya berupa hutang yang menumpuk, yang sangat mengancam yang siap membinasakan. Terkadang orang yang memiliki hutang menumpuk malah terlena dan sama sekali tidak sadar kalu dia sedang dililit oleh ular yang sangat besar. Persisi seperti pemuda mabuk tadi. Atau dia sadar digigt ular besar dan pasrah sepenuhnya sipa untuk binasa, sebab sudah tidak bisa berbuat apa-apa.
Dalam kondisi kritis, berulang kali Allah menjaga hamba-hamba-Nya. Orang yang hutangnya menumpuk itu diberi jalan keluar oleh Allah (seperti kisahnya Malik yang dituturkan oleh ceramahnya Yusuf Mansyur). Berbagai macam caranya Allah mengirimkan “kalajengking” penyelamat itu. Bisa jadi Allah membukakakn pintu bisnis yang baru yang dengan itu ia bisa bangkit dan melunasi hutangnya tau ada teman lama yang datang membantu menyelesaikan hutang-hutangnya. Ada bermacam-macam sebab, intinya Allah lah yang mengatur semuanya.
Cobalah sejenak kita ingat-ingat sejarah perjalanan hidup kita. Berapa kali sudah Allah mengirimkan kalajengking yang menyelamatkan hidup kita? Berapa kali sudah Allah menolong kita dalam kesusahan dan kesempitan yang mendera? Kalu kita jujur, pastilah berkali-kali. Bahkan setiap saat Allah melindungi kita dalam perlindungan yang kita tidak sadari.
Pertolongan dan kasih sayang Allah di dunia ini tidak hanya untuk orang-orang yang taat saja. Orang yang bermaksiat sekalipun masih mendapat cipratan kasih sayang. Contohnya pemuda mabuk tadi, dia tetep diselamatkan oleh Allah dan semestinya kasih sayang Allah yang sedemikian agungnya membuat siapapun insaf dan terjaga. Yang taat kepada lalah semakin taat karena ketaatan Allah itu sendiri adalah bentuk kasih sayang Allah dan yang masih belum taat, masih suka bermaksiat semestinya segera insaf, bahwa ia masih hidup dan bernapas di dunia ini karena lindungan Allah.
Semoga Allah selalu melindungi kita dan menjaga kita.Amin.
(Bumi Cinta/297-300)

0 komentar:
Posting Komentar