19 Februari 2011

Serial catatan Muhammad Ayyas (#5)


#5 Catatan Muhammad Ayyas tentang Sholat Shubuh
Problematika Sholat shubuh idientik dengan bangun kesiangan, ketiduran, malas bangun, dan sebagainya. Lalu Pernahkah kamu sholat shubuh kesiangan? Lalu bagaimana perasaan kamu? Biasa aja atau merasa sangat merugi karena tertinggal waktu shubuh? (silakan dijawab dengan hati). Berikut ini saya kutip bagaimana perasaan seorang Muhammad Ayyas ketika ia tertinggal sholat Shubuh. (baca dan renungkan)
Pagi itu Muhamamd Ayyas merasakan kesedihan luar biasa. Ia merasa kehilangan sesuatu yang paling berharga yang ia miliki. Ia merasa hatinya seperti telah copot dan kepalanya mau lepas dari tubuhnya. Dunia terasa suram dan kelam. Ia merasa menjadi manusia paling berdosa di atas muka bumi ini. Pagi itu Ayyas bangun kesiangan. Ia sholat shubuh tidak tepat pada waktunya. Ia merasakan musibah yang luar biasa. Ia meyesal bahwa dirinya bagaikan kerbau bodoh yang mendengkur sampai matahari terbit. Kerbau bodoh yang tidak bangun sholat shubuh ketika hamaba-hamba Allah yang sholeh sama rukuk dan sujud kepada. Ia menyesali kelemahan dirinya sendiri. Ternyata kekuatan cintanya kepada Allah belumlah dahsyat. Buktinya, kekuatan cintanya kepada Allah belum mampu membangunkannya untuk terjaga dan sujud kepada Allah. Dirinya ternyata masih jauh dibandingkan orang-orang sholeh yang mampu menjaga keisiqomahan sholat tepat pada waktunya sampai akhir hayatnya. Ia merasa sangat berdosa kepada Allah Ta’ala dan ia merasa tidak bisa menggantinya dengan cara apa pun. Air mata Ayyas meleleh.  
Ayyas teringat  wasiat seorang sahabat Nabi, Abu Bakar Ash Shidiq ra. menjelang wafatnya kepada Umar bin Khatabb ra.
“Aku wasiatkan kepadamu semoga kau mau menerimanya. Sesungguhnya Allah memiliki hak pada malam hari yang tidak diterima ketika dilaksanakan siang hari. Demikian juga Allah memiliki hak pada siang hari yang tidak diterima jika dilakukan pada malam hari. Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amalan sunnah sebelum  sebelum melaksanakan amalan wajib.”
Ayyas dicekam rasa ketakutan sekaligus kesedihan. Ia takut kalu sholat shubuhnya yang dilakukan tidak pada waktunya sama sekali tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Jika sholat shubuhnya tidak diterima Allah, bagaimana nasibnya kelak di akhirat? Ia selalu ingat, sholat adalah amal kebajikan pertama kali yang kelak akan dihitung oleh Allah. Nabi Muhammad SAW. Menjelaskan jika sholat seorang hamba dinilai baik oleh Allah maka baiklah seluruh amal perbuatannya dan jika sholatnya dinilai buruk oleh Allah, maka buruklah seluruh amal perbuatannya.
Di atas sajadahnya Ayyas beristigfar dan menangis seraya berdoa
“ Ya Allah harus bagaimana hamba menebus dosa ini? Ampunilah kekhilafan hambaMu ini ya Allah. Karuniakan kepada hamba kenikmatan sholat tepat pada waktunyasampai akhir hayat ya Allah. Ya Allah tolong hambaMu yang lemah ini untuk selalu mengingatMu untuk selalu bersyukur kepadaMu dan untuk selalu beribadah sebaik mungkin kepadaMu” 

Bagaimana? Luar Biasa bukan??? (Dan aku pun termenung akan kelalaian sholatku selama hidupku).  Sungguh Sholat itu sangatlah berat, kecuali bagi orang-orang yang beriman!

Yuk ciptakan gerakan SAW (Sholat Awal Waktu) dalam agenda-agenda harian kita! Oh iya jangan lupa Rawatibnya.... sebagai pemanis sholat fardhu! Alah bisa karena biasa nanti lama-lama jadi kebiasaan! Yup yup yup ^.^

(Bumi Cinta/185-188)

18 Februari 2011

Serial catatan Muhammad Ayyas (#4)


#4 Catatan Muhammad Ayyas tentang Sajak Indah
       Sajak indah ini ada di dalam kitab “Nahwal Ma’aali“ yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rosyid. 

kuatkan ikatan tekad
anagkat tingi-tinggi bendera harapan
berjalanlah menuju Allah
dengan sungguh-sungguh tanpa lelah
jika rasa lemah meyerangmu
isi jiwamu dengan kekuatan Al-Quran
libas nafsumu, jangan kasih ampun
nafsu selalu mengajakmu menuju kebinasaan

     Sajak pendek ini seolah  memberi harapan dan kekuatan bahwa kita harus tegas menguatkan tekad, harus kembali mengangkat bendera pengembaraan kita menuju Allah dan kita tidak boleh memberi ampun dan harapan sedikit pun kepada hawa nafsu yang bisa melemahkan jiwa dan menyeret hingga jurang kebinasaan.
Jagalah selalu hati kita dengan mengingat Allah, lawanlah hawa nafsu yang mendera dan binasakan!!! 

(Bumi Cinta/324-325)

Serial catatan Muhammad Ayyas (#3)


#3 Catatan Muhammad Ayyas tentang Pertolongan Allah
Ibnu Qudamah dalam salah satu karyanya berjudul At Tawabbin, menuturkan sebuah kisah menarik tentang kasih sayang dan pertolongan Tuhan, Ibnu Qudamah menyitir kesaksian orang yang mengalami kejadian nyata yang menakjubkan. Orang itu bernama Yusuf Bin Husain.
 Yusuf menuturkan kisahnya bahwa pada suatu ketika Ia bersama Dzun Nun Al Mishri berada di tepian sebuah anak sungai. Ia melihat seekor kalajengking besar di tempat itu. Tiba-tiba ada seekor katak muncul ke permukaan dan kalajengking itu kemudian naik di atas punggungnya. Kemudian sang katak berenang menyeberangi sungai. Dzun Nun Al Mishri merasa aneh dan mengajaknya untuk mengikuti kalajengking itu maka mereka meyeberang mengikuti kalajengking yang digendong katak itu. Yusuf dan Dzun Nun Al Mishri terperanjat ketika menjumpai seorang pemuda tertidur di tepian sungai yang nampaknya baru saja mabuk dan disampingnya ada seekor ular yang mulai menjalar dari pusar kemudian ke dadanya, kiranya ular itu hendak menggigit telinganya. Mereka pun menyaksikan kejadian luar biasa . Kalajengking tiba-tiba melompat secepat kilat ke tubuh ular dan menyengat ular itu sejadi-jadinya, hingga sang ular menggeliat-geliat dan terkoyak-koyak tubuhnya. Lalu Dzun Nun Al Mishri membangunkan orang yang habis mabuk itu dan ketika orang itu bangun, Dzun Nun seraya berkata
     “lihatlah betapa besar kasih sayang Allah yang telah menyelamatkanmu. Lihatlah kalajengking yang diutus-Nya untuk membinasakan ular yang hendak membunuhmu! Hai orang yang terlena, Padahal Tuhan menjaga menjaga dari marabahaya yang merayap di kala gulita. Sungguh aneh mata manusia mampu terlelap meninggalkan Tuhan Yang Kuasa yang melimpahinya berbagai nikmat”.
Setelah itu si pemabuk ini berkata “ Duahi Tuhanku betapa agung kasih sayang-Mu sekalipun tehadap diriku yang durhaka kepada-Mu. Jika demikian bagaimana dengan kasih sayang-Mu terhadap orang –orang yang selalu taat kepadaMu? Lalu pemabuk ini meniti jalan menuju Allah dan sering kali menangis setiap teringat masa lalunya yang sia-sia. Ia terus meniti jalan Allah yang lurus , jalan untuk orang –orang yang diberi nikmat sejati oleh Allah.
Kisah kalajengking yang diutus oleh Allah sesungguhnya bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja. Termasuk pada diri  kita. Mungkin kita tidak menyadari, Allah telah mengutus “kalajengking-kalajengking” untuk meyelamatkan kita dari bahaya “ular-ular” yang hendak membinasaka kita.
Kalajengking penyelamat itu bisa berbentuk hal yang bermacam-macam. Bahaya itu bisa jadi misalnya berupa hutang yang menumpuk, yang sangat mengancam yang siap membinasakan. Terkadang orang yang memiliki hutang menumpuk malah terlena dan sama sekali tidak sadar kalu dia sedang dililit oleh ular yang sangat besar. Persisi seperti pemuda mabuk tadi. Atau dia sadar digigt ular besar dan pasrah sepenuhnya sipa untuk binasa, sebab sudah tidak bisa berbuat apa-apa.
Dalam kondisi kritis, berulang kali Allah menjaga hamba-hamba-Nya. Orang yang hutangnya menumpuk itu diberi jalan keluar oleh Allah (seperti kisahnya Malik yang dituturkan oleh ceramahnya Yusuf Mansyur). Berbagai macam caranya Allah mengirimkan “kalajengking” penyelamat itu. Bisa jadi Allah membukakakn pintu bisnis yang baru yang dengan itu ia bisa bangkit dan melunasi hutangnya tau ada teman lama yang datang membantu menyelesaikan hutang-hutangnya.  Ada bermacam-macam sebab, intinya Allah lah yang mengatur semuanya.
Cobalah sejenak kita ingat-ingat sejarah perjalanan hidup kita. Berapa kali sudah Allah mengirimkan kalajengking yang menyelamatkan hidup kita? Berapa kali sudah Allah menolong kita dalam kesusahan dan kesempitan yang mendera? Kalu kita jujur, pastilah berkali-kali. Bahkan setiap saat Allah melindungi kita dalam perlindungan yang kita tidak sadari.
Pertolongan dan kasih sayang  Allah di dunia ini tidak hanya untuk orang-orang yang taat saja. Orang yang bermaksiat sekalipun masih mendapat cipratan kasih sayang. Contohnya pemuda mabuk tadi, dia tetep diselamatkan oleh Allah dan semestinya kasih sayang Allah yang sedemikian   agungnya membuat siapapun insaf dan terjaga. Yang taat kepada lalah semakin taat karena ketaatan Allah itu sendiri adalah bentuk kasih sayang Allah dan yang masih belum taat, masih suka bermaksiat semestinya segera insaf, bahwa ia masih hidup dan bernapas di dunia ini karena lindungan Allah.
 Semoga Allah selalu melindungi kita dan menjaga kita.Amin.
(Bumi Cinta/297-300)

17 Februari 2011

Serial catatan Muhammad Ayyas (#2)


#2 Catatan Muhammad Ayyas tentang Petuah Arab
Petuah Arab ini adalah petuah Ibnu Athaillah As Sakandari yang berbunyi Min ‘alamatin nujhi fin nihayati ar ruju’u ilallahi fil bidayati  yang artinya Salah satu tanda sukses di akhir perjalanan adalah kembali kepada Allah di awal perjalanan. Maksud dari petuah arab ini adalah bahwa bagi seorang yang mencari Ridho Allah, ada permulaan atau bidayah dan ada akhiran atau nihayah. Permulaan orang yang mencari ridho Allah adalah perjalanan menapaki kehidupan dan akhirnya adalah sampainya di hadapan Allah. Apabila sejak awal langkahnya memulai perjalanan, orang itu sudah benar-benar kembali kepada Allah, berjalan menuju Allah dengan total maka peluang suksesnya untuk sampai kepada ridho Allah sangat besar. Sebab Allah pasti menolongnya sejak ia memulai langkahnya. Allah akan menjaganya untuk tidak terputus  dan jatuh di tengah jalan. Akan tetapi jika di awal langkahnya tidak kembali kepada Allah, tidak meminta pertolongan Allah, maka ia akan terlempar kembali ke tempat ia memulai perjalanan, dan tidak akan sampai kepada Allah. Seorang ulama yang hatinya diterangi cahaya allah mengatakan “ Siapa yang mengira dirinya bisa sampai kepada Allah dengan pengantar selain Allah, maka Allah akan memutus perjalanan dan barang siapa beribadah dengan mengandalkan kekuatannya sendiri, maka Allah menyerahkan urusan ibadahnya kepada kekuatannya, Allah tidak akan menolongnya" (na udzubillah min dzalik).
Marilah kita berusaha untuk kembali kepada Allah, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah setiap kali memulai aktivitas. Manusia adalah makhluk yang lemah tak berdaya karena kekuatan ada pada Allah. Allah yang memberi kita kemampuan berpikir dan Allah lah yang menjaga kita dari segala yang tidak baik. Allah Allah Allah semuanya adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Semoga kita bagian dari orang yang  memulai langkahnya kemabali kepada Allah. Amin.
(Bumi Cinta/290-291)

Serial catatan Muhammad Ayyas (#1)

Serial ini bukan tulisan saya, melainkan tulisan Kang Abik. Catatan Muhammad Ayyas ini saya ambil dari novel terbarunya, Bumi Cinta yang tokoh utamanya bernama Muhammad Ayyas. Saat membacanya saya begitu "jatuh cinta" pada sang tokoh, Muhammad Ayyas. Berangkat dari hal itu dan akan kesukaan saya mengutip hal-hal yang bermanfaat untuk diri saya (insipirasi), maka saya sengaja membuat beberapa potongan paragraf  dalam novel yang sedikit saya edit dalam "Serial Catatan Muhammad Ayyas".



#1 Catatan Muhammad Ayyas  tentang Ka’bah kiblat Umat islam
Ka’bah sesungguhnya hanyalah kiblat, yaitu arah di mana kaum muslimin menghadapkan wajahnya ketika sholat. Jadi ketika sholat seorang muslim sama sekali tidak menyembah ka’bah yang tak lain adalah batu persegi empat. Sekali lagi tidak, yang disembah seorang muslim hanyalah Allah, Tuhan seru sekalian alam yang diikrarkan muslim ketika pertama kali masuk islam yaitu  aku bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah. Kabah hanya lah arah di mana harus menghadap ketika sholat.
Di dalam islam tata cara ibadah semuanya sudah diatur sempurna yang diatur sendiri oleh Allah sedangkan Rosulullah hanyalah utusan Allah yang menjelaskan tata caranya.  Allah lah yang memerintahkan menghadap sholat ke masjidil haram sebagai kiblat.
Sungguh kami sering melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami kan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai Palingkan mukamu ke arah masjidil haram dan diamna kamu berada palingkanlah mukamu ke arahnya” ( 2:144)
Tujuan menghadap arah yang sama yaitu arah ke ka’bah adalah untuk menyatkan umat islam di mana pun mereka berada. Jika tidak disatukan kiblatnya umat islam akan susah melakukan sholat berjamaah. Dalam satu masjid bisa terjadi ada yang sholat menghadap ke utara ada yang menghadap ke selatan ada yang menghadap ke tenggara dan lain sebagainya. Ibadah sholat jadi tidak khusuk. Persatuan tidak mudah trcipta. Demi menyatukan umat islam di mana pun mereka berada  Allah memerintahkan umat islam menghadap kabah ketiak sholat. Jika ia berada di sebelah utara kabah berarti ia harus menghadap ke selatan (orang islam di rusia). Jika ia berada disebelah timur kabah berarti dia harus menghadap barat (orang islam Indonesia)
Kalau kita baca sejarah dengan seksama yang menggambar peta dunia pertama kali adalah orang islam. Orang islam menggambar peta dunia dengan petunjuk arah selatan menghadap ke atas. Sedangkan arah utara menghadap ke bawah dan bangunan kabah berada di tengah-tengahnya. Jadi dalam pandangan orang islam, saat itu kabah berada di tengah-tengah peta dunia. Kemudian para pembuat peta dari Barat menggambar dunia dengan cara terbalik artinya arah utara menghadap ke utara dan arah selatan menghadap ke bawah. Alhamdulillah kabah juga tetap berada di bagian tengah peta dunia. Di dalam kabah ada batu hitam yang disebut hajar aswad. Ada riwayat menarik, Umar Bin Khatab ra. Pernah berkata kepada hajar aswad “saya tahu engkau hanyalah sebuah batu yang tidak bermanfaat dan tidak merugikan Jika aku tidak melihat Rosululah menyentuh kamu maka aku tidak akan menyentuh kamu”
 Pada zaman Rosulullah bahkan Bilal bin Rabbah berdiri di atas kabah dan mengumandangkan azan dari atas kabah. Kalau orang islam menyembah kabah bagaimana mungkin seorang penyembah menginjak-injak Tuhan yang disembahnya? Bilal bin rabah berdiri menginjak kabah tidak menjadi masalah sebab kabah hanyalah sebuah batu.
Sungguh Allah telah mengatur segala sesuatunya dengan sangat Baik, maka lakukanlah yang Allah perintahkan. Allah Maha Tahu dan kita tidak tahu.

(Bumi Cinta, 204-206)